To Write And To Be Written

A Promise To Myself: A best seller book, Six years to go. Good luck.

0 notes &

Tadi Sore (part 2)

                Aku melirik sedikit ke arah bawahanku. Aku baru saja akan mengangkat tangan untuk memberi kode kepada mereka… Satu pukulan telak mendarat di pipiku. Untung saja si bule gila bernyali ini mengenai tulang pipiku, yang notabene sudah terlatih dihantam gada sekalipun. Dan lihat, ia meringis kesakitan, tangannya baret.

                Hhh.. Keparat kau ekspirat sableng, rasanya tidak adil jika membiarkan wajahnya mulus seperti itu. Satu, satu pukulan telak tepat ke tengah wajahnya. Dua, dua jab kanan-kiri yang seratus persen aku yakin membekas ungu tua kehitaman dan bengkak sebesar bola tenis selama 3 hari itu pun jika perawatannya tepat. Tiga, tiga meter ia terjengkang kebelakang setelah uppercut yang aku layangkan tadi. Satu, dua, tiga. Lubang-lubang di kepalanya, mengalir darah segar.. Sepertinya bawahanku juga gemas saat melihat ia main-main denganku.

                Lihat, gara-gara aksi bodohmu tadi, kawanmu berlari kocar-kacir. Membuat kawanmu, yang beberapa saat lagi akan mati payah memegangi telefon dan bahkan mulutnya belum terkatup karena sedari tadi hanya berteriak-teriak pasrah memanggil orang-orangmu yang tidak kalah payah dengan kematian dirimu dan kawanmu.

                Orang-orangmu kepalang dungu dengan membiarkan pusat kontrol gedung ini memakai hanya CCTV untuk mengawasi. Dan kedunguan lainnya adalah membiarkan orang-orangmu terpisah-pisah. Memang, hal itu berarti memberikan hanya sedikit celah, tapi yang perlu kami lakukan hanya ada dua pilihan. Buat celah baru, atau hancurkan penghalang-penghalang celah itu.

                Kami memilih yang kedua.

                Urusan kami hari ini selesai. Sekarang saatnya clearing. Tim kami diluar sudah berkerja. Membersihkan bukti dan jejak yang tertinggal, membuat alibi baru. Kebakaran. Besar. Tim kami didalam juga sangat pandai merekayasa mangsa. Jika nanti mayat-mayat ini ditemukan, dan diautopsi, mereka hanya akan dapat keterangan terbakar berat. Kecuali mereka berdua. Niscaya, mereka Cuma akan jadi sejarah dan mitos. Bahwa dua orang terhormat ini, ternyata adalah bandar narkoba di negeri ini. Dan keberadaan mereka akan menjadi mitos setelah ini.

                Kami semua masuk kedalam van hitam ini. Kecepatan 160 kilometer per jam. Melesat bagai lalat meninggalkan bangkai yang diusik orang. Ke luar ibu kota. Ke markas kami berada. Seperti biasa, untuk lima menit kedepan, hanya ada sunyi yang membuat orang mengerenyitkan dahi karena hawa yang kalian akan tangkap adalah… Kaku. Kaku yang melumpuhkan sendi-sendi kalian. Karena orang-orang ini, dua jam yang lalu, baru membunuh sekitar 30 nyawa dan tanpa ada rasa bersalah ataupun berdosa. Kecuali aku, kawan. Kecuali aku…

“Kapten… kita sukses berat. Strategi kapten sungguh tanpa cacat.” Namanya Jo, dan ia adalah kaki tanganku selama ini. Selalu menjadi yang pertama memecah sunyi ini. Kemudian yang kudengar adalah gumaman-gumaman takjub dan kadang sorak-sorai kecil. Sekilas aku dengar mereka akan berpesta. Namun sebenarnya mereka sudah tau, kalau kapten mereka ini sudah melenyap ke alam mimpi.

                Van berderit pelan, dan akhirnya melamban. Aku tentu sudah otomatis terbangun, dan menjadi yang terakhir turun. Tadi aku bermimpi. Hanya sekilas saja. Aku lihat adegan terakhir sebelum ayahku meninggalkanku. Persis seperti sekaran ini. Aku bersama beberapa yang akan menjadi rekanku turun dan digiring ke Mess. Dan ayahku, hanya duduk di pojok van hitam ini. Saat aku menoleh kebelakang, ia menatap balik kepadaku. Tiga detik, ingatku. Kemudian ia membuang muka, dan berbisik kepada supir. Dan Van itupun menutup.

                Aku menoleh kepada supir. “Saya disini dulu, seperti biasa.” Supirku mengerti. Tentu ia mengerti. Sepanjang ia bekerja, Kaptennya akan selalu diam di van sendiri. Setidaknya untuk 15 menit. Dan pernah sekali ia menguping, yang ia dengar hanya sengguk pelan. Ia mengerti, ia harus meninggalkan kaptennya itu. Tapi ia tidak akan pernah mengerti mengapa. Karena bahkan, aku sendiri tidak mengerti mengapa.